Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy
mengaku tak masalah jika gagasannya mengenai sekolah sehari penuh
dipetisi oleh masyarakat di dunia maya.
"Saya senang ide tersebut dipetisi, itu tanda masyarakat kritis," ujar Muhadjir di Jakarta, Selasa (9/8).
Ia mengaku tak masalah dengan petisi menolak gagasan tersebut. Saat ini, sudah 10.000 netizen yang menandatangani petisi itu.
"100.000 pun yang menandatangani tidak masalah. Ini baru ide, nanti ada proses. Kami akan menyusun lebih menyeluruh."
Dia menjelaskan wacana sekolah sehari penuh tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi anak bangsa agar berdaya saing.
Meski disebut sebagai sekolah hari penuh, tetapi bukan berarti siswa belajar selama seharian.
Selepas
belajar, siswa akan mengikuti kegiatan pendidikan karakter. Menurut
dia, hal itu sesuai dengan pesan Presiden Joko Widodo yang mengatakan
kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah terpenuhinya peserta didik
pada jenjang Sekolah Dasar (SD) mendapatkan pendidikan karakter 80
persen dan pengetahuan umum 20 persen.
Sedangkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) terpenuhi 60 persen pendidikan karakter dan 40 persen pengetahuan umum.
Mantan
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengatakan pihaknya
berupaya mencari cara agar mengimplementasikan pesan tersebut agar bisa
menanamkan pendidikan karakter tersebut di sekolah.
Salah satunya melalui gagasan sekolah sehari penuh itu.
"Tentunya
dengan kegiatan yang menggembirakan, yang bisa merangkum pendidikan
karakter yang tertuang dalam Nawa Cita," tukas dia.















0 comments:
Post a Comment